***Napuran tano tano ma ninna ranging mar siranggongan, badanta padao dao tondi tai ma mar singonggoman.***

16/06/09

Kesempunaan itu ada


“Haruslah kamu sempurna sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”

(2Kor 8:1-9; Mat 5:43-48)




“Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna." (Mat 5:43-48), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Kita semua kiranya memiliki ‘musuh’, dan kalau mengatakan tidak memiliki ‘musuh’ hemat saya berarti bohong atau menipu diri. Apa yang saya maksudkan ‘musuh’ disini adalah segala sesuatu yang tidak berkenan di hati kita, tidak sesuai dengan selera pribadi kita, entah itu manusia, binatang, tanaman atau harta benda., makanan atau minuman. “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menaganiaya kamu”, demikian sabda atau ajaran Yesus.. Maka marilah kita hadirkan atau kenangkan apa atau siapa saja yang menjadi ‘musuh’ kita dan kemudian kita kasihi. Ingatlah dan hayatilah bahwa semuanya diadakan atau diciptakan dalam dan oleh kasih serta dapat tumbuh berkembang karena dan dalam kasih, maka dekatilah, perlakukan dan nikmati semuanya dalam kasih atau oleh kasih. Sebagai contoh adalah makanan dan manusia: (1). Dalam hal makanan hendaknya berpedoman pada sehat dan tidak sehat bukan enak dan tidak enak, artinya apa yang sehat meskipun tidak enak hendaknya dinikmati atau dimakan. Enak dan tidak enak hanya terasa sesaat di lidah saja, maka jika tidak enak langsung ditelan saja, percayalah Tuhan telah menganugerahi ‘alat penggiling/pengolah’ makanan maka langsung telan saja pasti sehat. (2) Manusia diciptakan dalam dan oleh kasih, manusia adalah ‘buah kasih atau yang terkasih’, maka dekati, sapa dan perlakukan dalam kasih pasti akan menjadi mendekat dan menjadi sahabat. Binatang buas pun ketika didekati atau diperlakukan dalam dan oleh kasih dapat menjadi sahabat, apalagi manusia sebagai ciptaan terluhur, termulia dan yang diciptakan sebagai gambar atau citra Allah. Secara khusus terhadap rekan sesama manusia jika merasa enggan atau berat mendekati, mulailah dengan mendoakannnya; demikian juga jika tidak ada kemungkinan untuk bertemu atau bertatap muka “berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu”, doa merupakan salah satu cirikhas hidup beriman atau beragama.

· “Maka sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu, — dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami — demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini” (2Kor 8:7). “Hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih”, inilah kiranya nasehat yang harus kita laksanakan di dalam hidup sehari-hari. Pelayanan kasih dapat kita wujudkan dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahun atau dalam kesungguhan untuk membantu. Dalam iman kita dapat bertukar pengalaman atau bercurhat dalam iman, pengalaman penyerahan diri kita seutuhnya kepada Tuhan dalam dan melalui hidup sehari-hari. Sharing iman ini kiranya dapat kita wujudkan melalui atau dengan tindakan maupun perkataan. Dalam pengetahuan berarti kita dipanggil untuk saling membagikan pengetahuan yang kita miliki kepada sesama atau saudara-saudari kita, serta dapat kita laksanakan dalam atau selama belajar maupun bekerja. Sedangkan ‘dalam kesungguhan untuk membantu’ kiranya dapat kita wujudkan dimana saja dan kapan saja, terutama bagi mereka yang sungguh memerlukan bantuan. Iman, perkataan, pengetahuan maupun kesungguhan untuk membantu semakin diberikan kepada orang lain tidak akan berkurang atau habis, melainkan sebaliknya akan semakin diperkaya dan diperkuat atau diperdalam. “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya” (2Kor 8:9), demikian sharing pengalaman iman Paulus. Marilah kita saling memperkaya, memperdalam dan memperkuat iman, pengetahuan maupun kesungguhan untuk membantu dengan saling memberi maupun menerima. Hendaknya tidak menjadi ‘katak dalam tempurung’, merasa damai dan tenteram tetapi sebenarnya takut dan merasa terancam.



“Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada TUHAN, Allahnya: Dia yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya; yang tetap setia untuk selama-lamanya, yang menegakkan keadilan untuk orang-orang yang diperas, yang memberi roti kepada orang-orang yang lapar. TUHAN membebaskan orang-orang yang terkurung, TUHAN membuka mata orang-orang buta, TUHAN menegakkan orang yang tertunduk, TUHAN mengasihi orang-orang benar “(Mzm 146:5-8)




Tidak ada komentar: