***Napuran tano tano ma ninna ranging mar siranggongan, badanta padao dao tondi tai ma mar singonggoman.***

20/06/08

Pluralisme


Semangat pluralisme di Indonesia kian melemah.Transisi politik yang tidak jelas dan mengaburkan visi keindonesiaan membuat penghargaan atas sesama anak bangsa semakin menurun.Pluralisme sebenarnya tidak menjadi masalah dalam budaya bangsa indonesia.
Rasisme hampir tidak di temukan dalam tradisi masyarakat .Namun penurunan semangat pluralisme dipicu oleh tidak adanya perubahan visi selama proses transisi dari rezim otoritarian ke sistem yang terbuka.
Masalah sosial yang semula diselesaikan dengan kekerasan negara berubah menjadi penyelesaian secara mekanisme sosial masyarakat.Bila basis kultural tidak di kendalikan visi yang jelas,akan membuat kohesivitas masyarakat renggang.

Melemahnya visi kebangsaan indonesia juga di sebabkan transisi politikyang tidak jelas ujungnya.Reformasi yang menjanjikan perubahan ternyata hanya memberi janji palsu.Transisi yang berlarut-larut membuat apresiasi masyarakat terhadap pluralisme menurun.
Ketidakjelasan visi keindonesiaan membuat agama menjadi tempat pelarian.identitas agama di nilai mampu memberi arah bagi kehidupan bernegara dan berbangsa.

Di negara-negara yang sistemnya kuat, hukum di kedepankan sebagai solusi atas berbagai masalah bangsa .Namun lemahnya penegakan hukum di Indonesia membuat masyarakat lebih mengandalkan agama yang bersifat eksklusif.
Presiden dan pemerintah seharusnya memberi visi baru bagi masyarakat.Kebhinekaan yang dulu di maknai secara otoriter harus di bangun kembali dengan visi sosial yang mampu menumbuhkan solidaritas masyarakat secara mandiri tanpa di atur negara.

Tokoh masyarakat,baik tokoh agama,sosial,maupun politik,seharusnya memberi visi baru keindonesiaan ini.Mereka seharusnya lebih banyak mendengar aspirasi masyarakat .Namun justru hal ini jarang dilakukan karena masing-masing pihak lebih berorientasi mengejar kepentingan politik sendiri.

Tidak ada komentar: